Rabu, 20 Oktober 2010

Ironis. Frans Mendur, Fotografer Proklamasi RI. Dianggap Tak Layak Dimakamkan di TMP Kalibata

Makin hari kok hati gw makin gusar. Ada apa dengan negeri yang kusayang dan kucintai ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya . . . Inikah buktinya ? 

Dimana hati kita, ketika melihat sosok yg berjasa bagi negeri ini. Didiamkan begitu saja. Senyap sekali. Ngga bisa gw bayangin kalo tanpa ada Pak Frans kala kemerdekaan kita. 17 Agustus 1945, hanya kaya tanggalan biasa ajah. Mungkin bisa aja kita bilang Soekarno Hatta pembohong belaka. Wong kaga ada bukti gambarnya . . .

Hari ini kita diingatkan kembali untuk mengenang salah seorang yang punya andil besar bagi kemerdekaan negara ini. Frans Mendur. Seorang fotografer yang punya hati buat kemerdekaan bangsanya. Apapun alasannya, waktunya Pak Frans Mendur beserta Alek Mendur diberikan penghargaan yang layak oleh negeri ini.
Saya sungguh menyayangkan betapa pemerintah terlalu 'menyepelekan' profesi ini [Baca lebih lengkap di note saya sebelumnya] 

Hari ini saya makin memberanikan diri.
Lewat blog ini, saya BERTERIAAAAAAAAAAK, 

Kami juga PAHLAWAN !!!!!!!!!!Kami juga PAHLAWAN !!!!!!!!!!!Kami juga PAHLAWAN!!!!!!!

Pak Susilo Bambang Yudhono yang terkasih, waktunya bapak memberikan salam hangat kepada kami. 

Berikan salam itu kepada mereka, Frans Mendur dan Alek Mendur


Hormat saya yang besar bapak bapak pemimpin negeri ini. 
Ingat, kursi empuk, AC yang dingin, pengawal pribadi, kaga pernah kena lampu merah dan macet, telfon gratis, listrik gratis, seketaris gratis, dokter gratis, rumah gratis, gaji besar. Masih banyak lagi yang gratis. Tak lepas ada andilnya pak Frans dan Alek Mendur . . . 
Waktunya kita memberi hormat sekarang . . . .


biar lebih mengiang di telinga kita ::
http://www.youtube.com/watch?v=HodEYxD5AVA

dikutip dari ::
Thursday, 10 September 2009 11:00
link sumber ::
http://mdopost.com/news2009/index.php?option=com_content&view=article&id=5398%3Afrans-mendur-fotografer-proklamasi-ri-3selesai-&catid=34%3Aberita-utama&Itemid=53




foto naskah proklamasi yg dibacain . . .
foto ini bukti otentik Indonesia uda merdeka . . . sang dwi warna berkibar . . .


Mulai 14 Agustus hingga 14 September 2009 nanti, digelar pameran foto Proklamasi Kemerdekaan RI hasil karya dua putra Kawanua Frans Soemarto Mendur dan Alex Impurung Mendur pada 62 tahun lalu. Lantas siapa kakak beradik ini?

FRANS Soemarto Mendoer lahir pada tahun 1913. Frans Mendoer merupakan putra asal Kawangkoan Minahasa. Frans belajar cara memotret kepada kakak kandungnya sendiri, Alex, yang kala itu menjadi wartawan foto Java Bode, koran berbahasa Belanda yang berkedudukan di Jakarta. Lambat laun, karena menyukai dunia fotografi, Frans menjadi wartawan foto pada tahun 1935.
Frans dan Alex adalah dua fotografer bersaudara yang menggagas pembentukan Indonesia Press Photo Service, atau yang kemudian disingkat IPPHOS. Dengan mengajak beberapa kawan, di antaranya kakak-beradik Justus dan Frank Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda, mereka secara resmi mendirikan kantor berita IPPHOS pada 2 Oktober 1946.
Dengan adanya kantor berita itu, minat Frans terhadap dunia fotografi semakin tersalurkan. Dari kepiawaiannya memainkan kamera, terabadikanlah foto-foto para tokoh penting bangsa ini, seperti Panglima Besar Soedirman, presiden pertama RI Soekarno, Wapres M Hatta, Amir Sjarifuddin, Sutan Sjahrir, Sayuti Melik, dan lain-lain.
Salah satu foto kehidupan Soekarno sehari-hari yang sempat didokumentasikan oleh Frans yakni foto saat Soekarno tengah menyaksikan para sopir kepresidenan mereparasi mobil. Ada juga foto momen-momen penting saat Soekarno mengumumkan kabinet pertamanya di bulan September 1945.
Frans juga sempat memotret mimik muka mantan Perdana Menteri Amir Syarifuddin yang tengah larut dalam perasaan emosional saat membaca buku tragedi Romeo and Juliet karya Shakespeare di atas gerbong yang membawanya ke hadapan regu tembak.
Bahkan, pada masa-masa revolusi fisik dulu, Frans juga banyak mengabadikan suasana Kota Jakarta, misalnya foto tulisan “Merdeka atau Mati” atau “Freedom or Death” yang banyak terdapat di tembok-tembok bangunan kala itu.
Dari sisi fotografi, apa yang dilakukan Frans Mendoer dan rekan-rekannya di IPPHOS bukan saja menjauhkan suasana kaku dan berjarak yang sangat terasa pada fotografi zaman Hindia-Belanda, tapi juga menghilangkan segala bentuk diskriminasi sosial. Pada hasil-hasil bidikan kamera mereka, manusia Indonesia sengaja ditonjolkan tampak hidup, tersenyum, bahkan berdiri tegap berdampingan dengan manusia-manusia dari belahan bumi lainnya. Frans dan rekan-rekannya di IPPHOS sengaja menampilkan foto manusia-manusia Indonesia yang tidak lagi hanya menjadi “piguran”, tapi menjadi sosok utama yang menjadi pusat perhatian. Bidikan kamera-kamera mereka telah mampu menyajikan wajah bangsa Indonesia pada kurun 1945-1949 dalam nuansa yang lain, yakni nuansa pergerakan.

TETAP IDEALIS
Orang-orang IPPHOS, terutama Frans Mendoer dan Alex Mendoer, sudah berperan sentral sebelum lembaga itu resmi berdiri. Rasa kebangsaan mereka pun telah teruji. Ketika rakyat Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan bebas menentukan masa depannya, para fotografer IPPHOS tetap idealis, sebuah pilihan yang sangat sulit dijalani. Sebab, jika mau, kehidupan Frans Mendoer sebenarnya bisa lebih terjamin dengan bekerja di media luar negeri. Hal itu sebenarnya sangat gampang dilakukan oleh Frans, mengingat nama Mendoer sebagai fotografer andal sudah terkenal ke mana-mana.
Selain itu, Frans dan Alex Mendoer juga sering meliput kondisi pergerakan kebangsaan di tiap negara Asia yang disorot publik dunia. Hal itu membuat keberadaan mereka sangat diperhitungkan oleh media-media asing. Apalagi, keluarga Mendoer berasal dari etnis Minahasa yang dianggap dekat dengan bangsa Belanda. Namun, atas nama bangsa, Frans tetap setia dalam pangkuan ibu pertiwi Republik Indonesia. Ia tetap mengabdikan dirinya bagi Republik Indonesia. Hebatnya lagi, IPPHOS juga tetap media independen.
Pada 1946, situasi dan keamanan Jakarta semakin gawat. Hal itu memaksa Soekarno-Hatta memindahkan pusat pemerintahan ke Yogyakarta. IPPHOS pun bersedia membuka kantor cabang di ibu kota RI kedua itu dan Frans Mendoer menjadi penanggungjawabnya.
Di Yogyakarta, semua hasil jepretan Frans saat meliput suasana perang dan kehidupan rakyat di tengah tekanan Belanda, menjadi kartu sakti perjuangan Republik Indonesia di forum internasional. Salah satu karya monumental Frans adalah foto penyambutan Panglima Besar Jenderal Soedirman oleh Letnan Kolonel Soeharto dan Rosihan Anwar di Stasiun Tugu atas perintah Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Frans meninggal dunia pada 24 April 1971 di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta. Dalam berita yang dimuat harian Pedoman tertulis bahwa tidak banyak wartawan yang mengantar jenazah Frans Soemarto Mendoer ke makamnya. Bahkan, meskipun jasanya bagi bangsa ini sangat besar, Frans dianggap tidak memenuhi syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sungguh sangat ironis. (myw/dari berbagai sumber)



salam hangat saya,
peterjulio_tarigan@yahoo.com
wedding photojournalism

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar